dua ASN petugas kesehatan dari Puskesmas Sikumana, dikawal oleh Babinsa Kelurahan Bello, Serka TNI AD Frans, harus berjuang menelusuri jalan tanah berbatu di lingkungan RT 007/RW 003 Kelurahan Bello menuju rumah sejumlah pasien. Peristiwa ini terjadi dalam penanganan kasus kesehatan belum lama ini, Senin (20/10/2025), menunjukkan betapa sulitnya akses vital di tengah ibu kota.
Metronewsntt.com, Kupang, — Kontras yang menyayat mata membentang di ibu kota Nusa Tenggara Timur. Saat pembangunan di pusat Kota Kupang kian menjulang, sebuah jalan sepanjang tiga kilometer di Kelurahan Bello, Kecamatan Maulafa, masih teronggok dalam wujud aslinya: tanah berbatu yang sulit dilalui.
Jalan vital yang menghubungkan Bello dengan Dusun Atonifui, Kabupaten Kupang, ini telah dibuka secara swadaya penuh oleh warga sejak lima tahun lalu, tepatnya pada tahun 2020. Namun, pengorbanan tenaga dan biaya mandiri masyarakat itu seolah tak berarti di mata pemerintah kota. Hingga kini, akses yang seharusnya menjadi urat nadi aktivitas harian dan pelayanan publik tersebut belum juga tersentuh proyek pengaspalan.
Tokoh masyarakat Bello, Corunus Tuan, mengungkapkan kekecewaannya dengan nada tegas atas minimnya perhatian pemerintah terhadap akses penting tersebut. “Tahun 2020 kami buka jalan ini dengan tenaga dan biaya sendiri supaya masyarakat di perbatasan tidak terisolasi. Tapi sudah lima tahun berlalu, belum juga diaspal,” ujar Corunus, Senin (20/10/2025).
Ia mendesak agar Pemkot Kupang tidak hanya berfokus pada estetika pusat kota. "Kami berharap pemerintah memberi perhatian lanjutan. Warga sudah berbuat, kini tinggal pemerintah yang melanjutkan," tambahnya, menekankan bahwa jalan tersebut adalah urat nadi bagi petugas kesehatan, aparat keamanan, dan aktivitas ekonomi warga.
Senada, Ketua RW 003 Kelurahan Bello membenarkan kondisi memprihatinkan ini. Ia menilai sudah saatnya Pemkot Kupang turun tangan untuk setidaknya melakukan pengerasan atau lapen (lapisan penetrasi) agar jalur ini layak dilalui sepanjang tahun, tidak berubah menjadi kubangan lumpur saat musim hujan. Ketimpangan infrastruktur ini menimbulkan pertanyaan besar tentang pemerataan pembangunan di Kota Kupang.
Akses jalan yang buruk tak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga menghambat pelayanan dasar, termasuk pelayanan kesehatan.(mnt)