WhatsApp Facebook Google+ Twitter BBM

Politik dan Seni: Jiwa dan Kekuatan yang Menyatu di Panggung Diskusi DPD PDI Perjuangan NTT

Metronttdewa.com 15-11-2025 || 19:47:40

Potret diskusi

Metronewsnttt.com, Kupang---​Hubungan erat dan kompleks antara politik dan seni dikupas tuntas dalam kegiatan pemantik diskusi yang digelar meriah di halaman Kantor DPD PDI Perjuangan Nusa Tenggara Timur (NTT), Jalan Piet A. Tallo, Oesapa Selatan, Kota Kupang, pada Sabtu (15/11/2025).

 Acara ini berhasil memicu perbincangan mendalam mengenai peran seni sebagai jiwa (soul) dan suara (voice) dalam arena kekuasaan. Diskusi ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Veronika Boleng Kelen, S.AP., M.AP., Dosen Administrasi Publik Unwira Kupang, dan Mikhael Rajamuda Batoana, Dosen Ilmu Komunikasi Politik dan Teori Kritis Publik Unwira Kupang. Kegiatan yang diikuti berbagai elemen kemahasiswaan (GMNI, HMI, Fakultas Hukum Undana, Fisip Unwira), Aliansi Jurnalis Independen, dan Sastrawan ini dibuka secara langsung oleh Wakil Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi DPD PDI Perjuangan NTT, Emanuel Kolfidus.

 Dalam kesempatan itu, Emanuel Kolfidus menekankan pentingnya diskusi ini bagi kader partai, menegaskan, "Kami di PDI Perjuangan menyadari betul bahwa politik tidak hanya soal kekuasaan pragmatis, tetapi juga soal jiwa dan ideologi. Seni adalah medium yang menghidupkan nilai-nilai perjuangan, menjadikannya relevan dan mudah diterima oleh masyarakat luas," seraya menegaskan komitmen partai untuk terus menjembatani dialektika antara kreativitas seni dan semangat politik kerakyatan.

​Dalam menciptakan suasana diskusi yang lebih bersemangat, acara dibuka dengan pekikan perjuangan "Merdeka!", menyoroti figur Proklamator Soekarno sebagai contoh nyata "seniman politik." Veronika Boleng Kelen mengutip pernyataan Bung Karno yang mengibaratkan dirinya mengolah masyarakat seperti seniman memeras tanah liat. 

Ia menegaskan, "Hubungan antara seni dan politik itu bukan dua topik yang terpisah, melainkan hubungan yang sangat kompleks. Seni menjadi media ekspresi, kritik, dan representasi, sementara politik adalah ranah kekuasaan, tata kelola, dan pembagian sumber daya." Veronika menambahkan bahwa seni berperan penting dalam pembentukan moralitas masyarakat dan memandang politik sebagai "seni membagi kue." 

Sementara itu, Mikhael Rajamuda Batoana membawa pembahasan ke ranah filosofis, menjelaskan bahwa jika ontologi seni adalah suara jiwa (ungkapan perasaan), maka ontologi politik adalah power atau kekuasaan. "Kalau tidak ada seni, bayangkan saja, politik itu bisa begitu bengis. Dia menjadi arena yang liar dan sulit dikendalikan," tegas Mikhael, menyimpulkan bahwa seni dan politik memiliki tujuan yang serupa: melahirkan kegembiraan bersama yang dirasakan oleh publik.(mnt)


Baca juga :

Related Post