WhatsApp Facebook Google+ Twitter BBM

Iman di Tengah Laju Teknologi: Catatan Diskusi Publik Astria Initia di Kupang

Metronttdewa.com 19-03-2026 || 14:37:48

Potret penyerahan

Metronewsntt.com, Kupang---​Setelah vakum selama empat bulan, komunitas Astria Initia kembali menghidupkan api dialektika di Kota Kupang melalui diskusi publik bertajuk “Agama di Hadapan Sains dan Teknologi, Antara Iman, Rasionalitas dan Masa Depan Peradaban.” Bertempat di Dapo San17, Penfui Timur, pada Jumat (13/3/2026) malam.

Diskusi yang  dilaksnakan di  itu menjadi ajang pertemuan gagasan yang dinamis bagi berbagai kalangan, mulai dari akademisi, tokoh senior HMI, hingga mahasiswa lintas kampus seperti Unwira, Undana, Muhammadiyah Kupang, dan Politeknik Negeri Kupang. Selama hampir empat jam, para peserta diajak menyelami ketegangan sekaligus harmoni antara keyakinan spiritual dan kemajuan nalar manusia di era modern.

​Diskusi ini menghadirkan dua perspektif mendalam dari narasumber yang mumpuni di bidangnya. RD. Patris Alegro, Pr, dosen filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira), membedah hubungan antara nilai-nilai religius dan etika sosial dalam kepungan teknologi.

 Ia menekankan bahwa di tengah laju sains yang seolah tanpa batas, agama memegang peran krusial sebagai kompas moral yang memberikan landasan etis bagi manusia dalam menghadapi persoalan kompleks di masa depan. 

Sementara itu, Dr. Umar S. Bethan, S.Ag, dosen Politeknik Negeri Kupang, meninjau relasi tersebut dari sudut pandang filosofis. Baginya, rasionalitas ilmiah dan keyakinan religius adalah dua jalan yang ditempuh manusia dalam mencari kebenaran serta menemukan makna atas realitas kehidupan yang semakin terdisrupsi.

​Koordinator Astria Initia, Seran, menjelaskan bahwa kehadiran kembali diskusi ini bertujuan untuk memantik refleksi intelektual yang lebih rasional dan kontekstual bagi mahasiswa maupun masyarakat umum. Ia menegaskan pentingnya keberadaan ruang-ruang diskusi alternatif di luar institusi formal.

 Menurutnya, jika ruang kelas belum mampu memacu daya kritis secara maksimal, maka komunitas seperti Astria Initia harus mengambil peran tersebut untuk menyediakan ruang dialog yang inklusif bagi generasi muda. Semangat ini sejalan dengan misi Astria Initia sebagai pusat studi dan kreativitas mahasiswa di Kota Kupang yang berfokus pada pengembangan nalar kritis di luar kurikulum akademik.

​Menutup kegiatan yang berlangsung hangat tersebut, Yosef Dionisius Lamawuran memberikan catatan reflektif bagi seluruh peserta yang hadir. 

Ia menegaskan bahwa proses pencarian ilmu tidak boleh terhenti di balik dinding institusi pendidikan semata. Baginya, ruang kelas memiliki keterbatasan fisik dan waktu untuk menampung luasnya cakrawala ilmu pengetahuan, sehingga diskusi publik seperti ini menjadi jembatan penting untuk terus memperkaya pemahaman manusia akan peradaban yang terus berkembang. Melalui pertemuan ini, Astria Initia kembali menegaskan posisinya sebagai wadah intelektual yang konsisten mengawal nalar kritis mahasiswa di Nusa Tenggara Timur.(mnt)


Baca juga :

Related Post