WhatsApp Facebook Google+ Twitter BBM

Gerilya Pasukan Oranye DLHK Menjinakkan Sembilan Titik Penumpukan Sampah di Kota Kupang

Metronttdewa.com 14-02-2026 || 12:16:55

Potret pengakutan sampah oleh pasukan oranye DLHK Kota Kupang

Metronewsntt.com,Kupang —Fajar menyongsong dengan langit yang diselimuti awan mendung. Angin sepoi yang dingin menyapu sudut-sudut Kota Kupang, membuat sebagian besar penduduk kota masih menikmati sajian kopi dan teh panas di kehangatan rumah mereka masing-masing.

 Namun, di tengah ketenangan itu, irama bunyi mesin truk yang terparkir rapi di tepi bak sampah menjadi pertanda bahwa "pasukan oranye" telah memulai gerilya mereka.


​Di sudut jalan, nampak pasukan Regu V dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Kupang sudah sibuk bergulat dengan tumpukan sampah. 

Salah seorang petugas, Exnardo Sailana, bersama rekan-rekannya tampak cekatan melakukan aktivitas harian mereka. Bagi mereka, sampah bukan sekadar limbah buangan, melainkan musuh yang harus dijinakkan setiap hari demi memastikan setiap Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang menjadi wilayah tugas regu mereka tetap terkendali dan tidak meluap.


​Kepada media Sabtu (14/2/2026, Exnardo menjelaskan bahwa operasi penanganan sampah yang dilakukan menyisir sembilan titik strategis di ibu kota. Perjalanan gerilya mereka dimulai dari TPS kontainer di ujung Jembatan Petuk 2, menyisir titik-titik liar di sepanjang Jalur 40 hingga kontainer samping pintu masuk TPU Damai Fatukoa. Perjuangan berlanjut ke TPS kontainer di Boulevard Loti hingga Perumahan 1000 Pemda Kota Kupang, kontainer plastik di belakang RS Carolus Borromeus Kelurahan Bello, serta TPS kuning dekat Gedung Pengujian Kendaraan Bermotor Dishub. Tidak berhenti di situ, pasukan ini juga mengamankan TPS kontainer di Pantai Warna Kelurahan Oesapa, Jalan Piet Manehat Kelurahan Kayu Putih, hingga TPS permanen di samping Asrama TNI AL Kelurahan Namosain.

​Di balik peluh yang membasahi kening meski cuaca sedang dingin, terpancar motivasi besar untuk menjaga kebersihan Kota Kupang pada setiap titik yang menjadi pelabuhan persinggahan mereka. 

Setiap tumpukan sampah yang diangkut adalah pengingat bagi kita semua bahwa wajah bersih kota ini berada di tangan-tangan yang kasar dan legam. Mereka memastikan sampah, baik yang berada di TPS resmi maupun di lokasi-lokasi liar yang seringkali bukan tempat pembuangan layak, harus terangkut tuntas menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

​Kisah pertempuran para pasukan oranye ini adalah satu dari ribuan potret pengabdian sunyi di kota ini. Mereka tidak datang untuk meminta penghargaan setinggi langit atau pujian yang riuh.

 Satu hal sederhana yang mereka harapkan hanyalah kesadaran kolektif dari masyarakat: untuk setidaknya membuang sampah pada tempatnya atau mulai memilah sampah dari rumah. Karena dengan memudahkan pekerjaan mereka, kita sesungguhnya sedang menghargai kerja-kerja mereka yang tersembunyi di balik seragam oranye kebanggaan mereka.(mnt)


Baca juga :

Related Post