WhatsApp Facebook Google+ Twitter BBM

Cerita Rakyat dan Tradisi Lokal Sebagai Media Pendidikan Multikultural

metronewsnttcom 18-12-2025 || 12:02:01

Foto Penulis saat menghadiri Anugerah Kihajar Tahun 2018 di Jakarta

Oleh : Miguel Fernandes

Indonesia adalah negara dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Keberagaman suku, agama, Adat- Istiadat sampai pada Kebudayaan merupakan hal indah yang membentuk identitas suatu bangsa atau daerah. Namun, dalam keberagaman ini tantangan penggabungan dan pemahaman antar budaya sering Kali muncul dan menjadi polemik antar sesama atau bahkan sampai pada hal-hal yang tidak diinginkan contoh kecilnya seperti mengejek budaya lain atau sampai membuli individu karena berbeda budaya, dan lain-lain. Di sinilah peran Pendidikan Multikultural menjadi sangat penting, dan menjadi salah satu pembelajaran yang paling efektif untuk mengajarkan nilai-nilai toleransi, melalui Cerita Rakyat dan Tradisi Lokal dalam mendukung Pendidikan Multikultural.

 

Opini ini akan membahas bagaimana Cerita Rakyat dan Tradisi Lokal Menjadi Media Pendidikan Multikultural yang efektif di Indonesia, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Timur dengan menyoroti fungsi cerita rakyat dalam menanamkan nilai toleransi, moral, dan identitas budaya masing-masing, serta memperkenalkan kekayaan nusantara untuk membangun pemahaman dan keharmonisan di tengah keberagaman, seperti melalui cerita-cerita rakyat yang sudah ada yang mana bertujuan untuk menggabungkan pendidikan karakter dan budaya dalam satu wadah yang menarik bagi semua kalangan.

 

Fungsi Pendidikan Multikultural dalam Cerita Rakyat

Menanamkan Nilai Moral dan Budi Pekerti:

Cerita rakyat seperti :

- Empo Rua dan Keluarga Meler : Mengisahkan perjuangan keluarga melawan raksasa (Empo Rua) di Tanah Sano Nggoang, Manggarai Barat, menunjukkan kecerdikan dan kekuatan komunitas.

- SuriIkun dan dua burung: Cerita Rakyat dari daerah Malaka – NTT, Suri Ikun yang baik hati dirawat oleh dua burung hingga akhirnya dianugerahi istana dan kebahagiaan, mengajarkan kebaikan dibalas kebaikan

- Legenda Asal Usul Pulau Timor : Cerita Rakyat daru Daerah Timor – NTT , Kisah anak buaya yang berubah menjadi daratan setelah mati, menjadi cikal bakal Pulau Timor, menunjukkan hubungan erat masyarakat dengan alam.

- Watu Maladong : Cerita Rakyat dari Sumba Barat Daya – NTT, Mengajarkan ketekunan dan kebaikan, di mana petani yang gigih menemukan harta karun berupa batu sakti, dan seorang nenek baik hati menolong mereka.

- Lona Kaka dan Lona Rara : Bercerita tentang persaingan kakak beradik dalam menumbuk padi, di mana iri hati membawa kesesatan namun pertolongan datang dari alam (Goa Wuamaroto)

Nilai yang terkandung Secara umum Nilai yang terkandung dalam Cerita Rakyat terdirti dari beberapa bagian yaitu :

  1. Moral dan Falsafah: Kejujuran, gotong royong, kerukunan, dan rasa syukur.

  2. Kearifan Lokal: Kedekatan masyarakat NTT dengan alam dan pentingnya menjaga keseimbangan ekologi.

  3. Keberanian dan Kecerdikan: Tokoh-tokoh sering kali harus cerdik atau berani untuk mengatasi masalah, seperti dalam kisah Empo Rua.

Mengenalkan Keberagaman Budaya :

Setiap daerah memiliki cerita khasnya. Mempelajari cerita dari Sabang sampai Merauke dapat membuka wawasan tentang kepercayaan, dan cara hidup masyarakat yang berbeda-beda, dan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan penghargaan terhadap keunikan . Secara keseluruhan, pernyataan ini menjelaskan bagaimana pengenalan terhadap keberagaman budaya berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik dan sikap saling menghormati di masyarakat Indonesia yang majemuk, dari Sabang hingga Merauke.

Membangun Identitas dan Kebanggaan Bangsa :

Cerita Rakyat adalah cerminan jiwa dan sejarah bangsa yang harus dilestarikan dan disebarluaskan terlebih kepada generasi Z sekarang agar selalu di lestarikan dan dijaga karena itu adalah warisan budaya yang tidak boleh dihilangkan karena menyangkut pola pikir dan pola tindak serta menjaga dari gempuran-gempuran budaya luar negeri.

Menjadi Jembatan Komunikasi dan Toleransi:

Anak-anak atau generasi Z ketika di kelas dan dari berbagai latar belakang ketika diceritakan sebuah buah cerita rakyat misalnya tentang Suri Ikun dan Dua Burung : Cerita Rakyat dari daereah Malaka – NTT, Suri Ikun yang baik hati dirawat oleh dua burung hingga akhirnya dianugerahi istana dan kebahagiaan, mengajarkan kebaikan dibalas kebaikan, anak-anak akan saling memotivasi hal-hal baik antar sesama.

Contoh Penerapan dalam Pendidikan :

  1. Kurikulum Sekolah : Memasukkan cerita rakyat daerah masing-masing sebagai materi yang di ajarkan  di  Muatan Lokal dalam hal ini PLSBD, tidak hanya sebatas dongeng pengantar tidur, tetapi analisis nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yang memuat tentang bagaimana kita harus saling menghargai, tolong-menolong,  bergotong royong atau Kerjasama.
  2. Kegiatan Lisan dan Pertunjukan: melakukan kegiatan lomba saat pelaksanaan ulang tahun sekolah atau menyongsong hari kemerdekaan dengan cerita rakyat daerah masing-masing Dimana selain mencari yang terbaik untuk menjadi juara 1 (satu), tujuan lainnya dari perlombaan ini adalah menyampaikan pesan kepada semua bahwa setiap daerah memiliki keberagaman Bahasa dan Budaya masing-masing.
  3. Pengembangan Konten Digital : Dizaman serba digital kita tidak bisa hanya menampilkan cerita rakyat dalam buku saja, namun harus meningkatkan kreatifitas kita masing-masing dalam hal teknologi dengan Membuat animasi sederhana atau video edukatif sederhana dari cerita rakyat yang mudah diakses oleh warga generasi digital tujuannya adalah memperkenalkan budaya lokal pada khususnya dan Budaya Indonesia pada umumnya secara visual (gambar atau video) dan naratif (Pembacaan Teks)

Peran Tradisi Lokal :

Tradisi lokal, seperti upacara adat, tari-tarian, atau kerajinan, sering kali menjadi latar belakang atau bagian yang digabungkan dalam cerita rakyat yang ada saat ini. Memahami tradisi-tradisi yang ada dapat memperkaya pemahaman kita tentang konteks cerita. Misalnya, dari suku Lamaholot (kelompok etnis yang terdiri dari kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, yang sumber pusat budayanya di Larantuka): Dongeng tentang komitmen menjaga laut dan kebun melalui tradisi muro dan badu. Secara keseluruhan, tradisi lokal menjadi jiwa dan dapat memberikan solusi-solusi kepada anak cucu untuk selalu berpegang pada tradisi dan budaya local masoing-masing dan tetap berpegang pada pedoman saling menghargai antar budaya serta menjadikannya tradisi bukan hanya sekedar hiburan pawai 17an atau hari kebudayaan saja, tetapi juga cerminan nilai, pedoman hidup, dan identitas budaya yang terus hidup.

 

Kesimpulan :

Cerita rakyat dan tradisi lokal bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan dapat menjadi salah satu alat pendukung keberhasilan pendidikan multikultural yang sangat relevan dan kuat untuk masa kini hingga masa depan. Dengan memanfaatkan kekuatan narasi dan kearifan lokal, Pentas budaya, perlombaan, vidio edukatif dan lainnya, kita dapat membekali generasi muda dengan pemahaman bahwa negara kita kaya akan keberagaman budaya, adat istiadat, suku, agama yang mana bertujuan untuk menumbuhkan toleransi antar budaya, dan memperkuat persatuan bangsa, menjadikan Indonesia lebih harmonis dan maju dengan berpedoman pada saling menghargai, tolong menolong dan keberanian.

 

Kritik dan Saran :

Penulis menyadari bahwa karya diatas masih jauh dari kata sempurna oleh karena itu kritik dan saran dibutuhkan untuk penyempurnaan karya ini. mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang kurang pas atau lainnya, terima kasih.

Tag :
 UMUS  Opini  Pendidikan Multikultural  RPLC2  Universitas Muhadi Setiabudi  Brebes  
Baca juga :

Related Post