Audiens
Metronewsntt.com, Kuppang– Wajah ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kota Kupang, kini tengah bersiap melakukan transformasi besar dalam sistem pengelolaan lingkungan. Komitmen kuat Pemerintah Kota Kupang di bawah kepemimpinan Wali Kota dr. Christian Widodo mendapat apresiasi langsung dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI dalam audiensi yang berlangsung di ruang kerja Wali Kota pada Rabu (8/4/2026). Direktur Mitigasi Perubahan Iklim KLHK, Haruki Agustina, secara tegas mendorong agar Kota Kupang tampil sebagai wajah perubahan dan menjadi role model bagi daerah lain di NTT.
Dukungan pusat ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan hasil penilaian terbaru, capaian pengelolaan sampah Kota Kupang mengalami peningkatan signifikan, dari sebelumnya 41,93 menjadi 50,8. Meski masih dalam kategori pembinaan, tren ini dinilai sebagai sinyal positif menuju lompatan yang lebih besar.
Haruki menekankan bahwa pihaknya menargetkan peningkatan yang lebih ambisius bagi Kupang, yakni kenaikan hingga 15 poin untuk melampaui target minimal nasional. Sebagai bentuk dukungan nyata, KLHK siap memberikan pendampingan penuh, mulai dari peningkatan kapasitas SDM hingga mendorong kolaborasi strategis dengan sektor swasta dan BUMN melalui program CSR untuk mengubah sampah menjadi energi bernilai ekonomi.
Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menegaskan kesiapan penuh jajarannya untuk menjawab tantangan tersebut melalui roadmap pengelolaan sampah yang jelas dari hulu ke hilir. Dengan produksi sampah mencapai 267 ton per hari, Pemkot Kupang tengah merancang sistem pengelolaan berbasis wilayah melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di setiap kecamatan. Strategi ini bertujuan agar sampah diolah sejak dari sumbernya, sehingga target ambisius untuk hanya menyisakan 15 persen residu yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dapat tercapai.
Transformasi ini juga didukung oleh berbagai inovasi lapangan, mulai dari pembentukan Satgas Penanganan Sampah, pengaturan jam buang sampah, hingga penyediaan ratusan kontainer baru. Bahkan, untuk memacu partisipasi di tingkat akar rumput, Pemkot Kupang menggelar lomba kebersihan antar-kelurahan dengan insentif program senilai total Rp1 miliar. Namun, dr. Christian mengakui bahwa tantangan terbesar tetap terletak pada perubahan perilaku masyarakat. Oleh karena itu, edukasi terus digencarkan secara masif melalui sekolah, rumah ibadah, hingga tingkat RT untuk membangun kesadaran kolektif.
Sebagai langkah konkret ke depan, pemerintah pusat juga mendorong pelibatan tenaga penyuluh lintas sektor untuk memperkuat edukasi pemilahan sampah dari rumah tangga. Pertemuan yang juga dihadiri oleh para pejabat teras Setda Kota Kupang, DPMTSP, dan DLHK ini ditutup dengan kesepakatan untuk memperkuat koordinasi berkelanjutan. Dengan sinergi yang semakin kuat, Kota Kupang kini berada di jalur yang tepat untuk membuktikan bahwa komitmen yang kuat mampu mengubah tantangan lingkungan menjadi peluang prestasi yang menginspirasi daerah lain di Indonesia.(mnt)