WhatsApp Facebook Google+ Twitter BBM

Potret Akses dan Harapan Mantan Ketua Pengempon Pura Oebanantha Soal Kondisi Pasar Oeba

Metronttdewa.com 02-02-2026 || 17:50:49

Potret

Metronewsntt.com, Kupang– Pura Oebanantha atau yang lebih dikenal sebagai Pura Oeba, kini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Rumah ibadah yang telah berdiri sejak tahun 1961 di Kelurahan Fatubesi ini, beserta lembaga pendidikan TK dan SD Saraswati yang berada di dalamnya, seolah terisolasi di tengah hiruk-pikuk aktivitas pasar yang tidak tertata. 

I Nyoman Ramia, warga umat Hindu sekaligus Mantan Ketua Pengempon Pura Oebanantha periode 2014-2017, kepada media, Sabtu (31/1/2026) mengungkapkan keprihatinannya atas akses jalan yang kian hari kian tertutup oleh lapak pedagang tanpa adanya tindakan tegas dari Pemerintah Kota Kupang maupun PD Pasar.

​Nyoman menegaskan sebuah fakta pahit bahwa infrastruktur jalan yang kini dikuasai oleh aktivitas ekonomi pasar sebenarnya adalah buah dari kerja keras dan swadaya murni umat Hindu. Jalan yang saat ini ditempati los pasar kelapa, serta akses di bagian timur tepat di depan Kantor Kelurahan Fatubesi, merupakan jalur yang dibuka sendiri oleh umat agar memiliki akses masuk yang layak. 

Sejarah mencatat, sejak tahun 1991 hingga 1995, umat telah berkali-kali membangun jalan baru, termasuk melakukan pengurukan lahan secara mandiri dengan 200 rit sirtu di area pesisir yang semula rawa. Namun ironisnya, jalan-jalan swadaya tersebut kini justru "terampas" oleh lapak-lapak permanen dan tenda kios yang menjorok hingga ke tengah jalan.

​Kondisi ini diperparah dengan keberadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah yang terletak tepat di depan pintu masuk rumah ibadah. Sebagai warga, Nyoman menyatakan keberatan yang sangat besar atas keberadaan TPS tersebut karena aroma tak sedap dan tumpukan sampah yang meluber sangat mengganggu kekhusyukan ibadah serta mencemari lingkungan sekolah.

 Ia mengingatkan bahwa cita-cita Pemerintah Kota Kupang untuk meraih penghargaan Adipura mustahil tercapai jika tata kelola pasar dan kebersihan di sekitar rumah ibadah masih diabaikan secara kasat mata.

​Dampak dari terenggutnya akses ini telah memukul dunia pendidikan di wilayah tersebut. TK dan SD Saraswati yang sudah terakreditasi mengalami penurunan jumlah murid secara drastis karena orang tua enggan menyekolahkan anaknya di lokasi yang kumuh dan sulit ditembus kendaraan. 

Hal inilah yang memicu kekecewaan mendalam bagi Nyoman Ramia, hingga ia memilih mundur dari kepengurusan FKUB Kota Kupang pada tahun 2022 karena merasa suaranya tidak lagi didengar oleh pengambil kebijakan.

 Ia  berharap Pemerintah Kota Kupang untuk tidak lagi melakukan pembiaraan, namun perlu adanya penataan yang baik  dengan pengembalian fungsi badan jalan, relokasi TPS yang yang jaraknyatidak jauh dari pintu masuk Pura, dan penertiban pedagang secara permanen demi menjaga marwah rumah ibadah dan keberlangsungan pendidikan bagi anak bangsa di sekolah yang ada. (mnt)


Baca juga :

Related Post