Kepala BPBD Kota Kupang sedang di wawancarai
Metronewsntt.com, Kupang---Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kupang telah mengambil langkah sigap dan terkoordinasi untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, seperti angin puting beliung, tanah longsor, dan banjir.
Ancaman ini mengemuka seiring dengan perubahan cuaca ekstrem dan intensitas musim penghujan yang sedang berlangsung. Langkah strategis ini merupakan respons
langsung terhadap desakan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kupang, khususnya Anggota Komisi II dari Partai Perindo, Otnie Benyamin Selan.
Otnie menekankan pentingnya Pemerintah Daerah, melalui BPBD, untuk segera menyiapkan langka strategi mitigasi bencana yang komprehensif, mengingat beberapa kelurahan di Kota Kupang tergolong daerah rawan.
Daerah-daerah rawan banjir seperti Liliba, Naikoten I, Bakunase II, Manutapen, Tuak Daun Merah (TDM), dan Kampung Amanuban Oebufu diidentifikasi sebagai wilayah dengan kerentanan tinggi terhadap banjir.
Selain itu, Kecamatan Kelapa Lima memiliki potensi kerawanan banjir tertinggi, terutama risiko Banjir Rob (pasang air laut), di mana wilayah pesisir, termasuk Oesapa, sangat rentan akibat kombinasi faktor curah hujan, jarak dari laut, dan pasang surut air laut.
Kepala BPBD Kota Kupang, Ernest Ludji, menjelaskan di Gedung DPRD Kota Kupang pada Senin (24/11/2025), bahwa kesiapsiagaan BPBD bertumpu pada tiga pilar utama: pertama, menyiapkan dan memastikan seluruh peralatan dan logistik BPBD dalam kondisi prima; kedua, membangun koordinasi yang kuat dengan pihak terkait mulai dari tingkat kecamatan hingga kelurahan, serta ketiga, melakukan sosialisasi secara luas kepada masyarakat mengenai langkah-langkah antisipasi.
Ernest Ludji juga menekankan bahwa penanganan bencana akibat cuaca ekstrem ini menuntut peran serta masyarakat yang sangat penting bersama pemerintah.
Ia mengimbau warga untuk mengambil langkah pencegahan mandiri, seperti secara aktif menjaga kebersihan drainase agar aliran air lancar, dan melakukan pemangkasan ranting pohon yang berpotensi membahayakan. Khusus bagi warga yang bermukim di bantaran kali, BPBD telah meningkatkan kewaspadaan.
Ernest menambahkan bahwa warga di wilayah seperti TDM dan Oebufu telah memiliki adaptasi dan kesadaran tinggi pasca-Badai Seroja. "Memang warga yang tinggal di bantaran kali sudah beradaptasi dengan keadaan waktu Seroja, sehingga mereka sudah cukup trauma. Kondisi ini secara alami telah membentuk kelompok masyarakat siaga dan relawan," jelasnya.
Kelompok-kelompok ini, yang telah diberikan sosialisasi, siap melakukan evakuasi mandiri jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang berpotensi menimbulkan bencana.
Ernest berharap kewaspadaan akan bencana oleh warga tetap terjaga dengan terus memprioritaskan lingkungan agar tetap bersih dan terawat, hal ini penting agar saat hujan deras, aliran air dapat mengalir dengan baik sehingga warga tidak terdampak bencana.(mnt)